Ketika kantor penerimaan Akademi Penyihir menghubungiku, aku benar-benar terkejut. Aku diterima di sekolah yang bahkan tak pernah kubayangkan bisa kumasuki.
Ya, aku memang laki-laki, sedangkan akademi itu khusus untuk perempuan. Namun, pihak akademi tidak mempermasalahkannya, jadi aku pun tidak punya alasan untuk menolak. Lagi pula, aku mendaftar diam-diam tanpa sepengetahuan keluargaku, hanya untuk mencoba peruntungan.
Namun, begitu para senior yang memikat itu menyambut para murid baru, sambil menekan setiap siswa laki-laki ke dinding dengan senyum penuh arti, aku langsung sadar bahwa semuanya akan segera berubah menjadi kekacauan.
"Ayolah, adik tingkat yang manis," ujar salah satu dari mereka dengan nada menggoda. "Jangan mempersulit kakakmu ini. Telan inti ini, lalu berubah menjadi penyihir sepertiku, ya?"
Ia mengangkat sebuah bola bercahaya di hadapan kami, seolah mengancam sekaligus menggoda, menunggu reaksi dari para siswa laki-laki yang baru datang. Jelas sekali ia menikmati semua itu. Rasa takut dan perlawanan yang tergambar di wajah mereka adalah hiburannya.
Bagaimanapun juga, kesempatan seperti ini hanya datang sekali dalam setahun.